Pendahuluan

MENGENAL AKU HAKIKI

Untuk mengenal AKU yang hakiki diperlukan ketekunan dan kesabaran dan perlu panduan seorang guru yang ahli dalam bidang kerohanian dan kesufian yang disebut Mursyid, dan banyak berfikir tentang keadaan sekitar dan berzikir serta memohon taufik dan hidayah dari Allah swt.

AKU kita ini ibarat sagu, perlu dipecahkan ruyungnya, barulah didapatkan sagunya, memecah ruyung itu hendaklah dengan petunjuk orang yang telah ahli memecahkan ruyung atau yang tahu cara bagaimana memecahnya dan alat pemecahnya pun mestilah yang sesuai.
AKU yang hakiki yang dikatakan ‘bayangan’ atau ‘ayat’ atau ‘pendzahiran’ Yang Maha AKU yaitu Allah swt, maka itulah matlumat atau ‘destinasi’ yang dituju.

Sebelum sampai ke ‘destinasi’ itu perlulah kita mengembara atau berjalan dengan kendaraan atau tanpa kendaraan menuju tempat yang akan dituju, kemudian agar tidak tersesat, kita perlu ‘penunjuk jalan’ supaya bisa sampai ke tempat yang sebenarnya.

Sebenarnya kendaraan diperlukan agar lebih cepat sampai, karena kalau berjalan kaki saja tanpa kendaraan sepertinya akan lambat sampai tujuan..

Kemudian setelah sampai perlulah kita mendapat pengesahan dari ‘si penunjuk jalan’ bahwa tempat yang kita tuju itu telah sampai, maklumlah karena tempat itu belum pernah kita lihat, mungkin saja kita ragu-ragu apakah benar itu tempatnya.

Setelah Sah itulah tempat yang kita tuju, maka tamatlah pengembaraan kita.

Apabila kita telah berada dalam tempat yang dituju itu, maka bebaslah kita menikmati dan merasai atau mengalami keadaan di tempat tersebut.

Seperti kata orang-orang sufi, ” Barangsiapa kenal dirinya akan kenal Tuhannya”. Mengenal Allah melalui mengenal diri itu adalah jalan atau cara orang-orang sufi.

Ini bukan berarti diri kita itu sama dengan Tuhan.

Diri kita tetaplah diri kita. Diri kita bukan Tuhan. Allah tetap Allah tanpa sekutu baginya dengan yang lain. Diri kita tetap diri kita juga. Tetapi dengan mengenal diri itu dapatlah kita mengenal Allah.

AKU atau diri kita ini adalah ‘ayat-ayat’ atau ‘tanda-tanda’ atau ‘bayangan’ Tuhan.

Dzat Tuhan itu, digelar oleh Ahli Sufi sebagai ‘Kunhi Dzat’ (semata-mata Dzat), tidak sampai kedalam pengetahuan atau ilham atau kasyaf kita.

Singkatnya ilmu dan kasyaf kita tidak mampu menjangkaunya.

Tetapi bayanganNya atau ayat-ayatNya atau pendzahiranNya dapat kita kenali.

Matahari itu menyilaukan mata bila langsung memandangnya, tetapi bayangannya dalam air dapat kita pandang tanpa merusakkan mata.

Angin tidak dapat dilihat tetapi kalau daun bergoyang itulah tanda adanya angin.

Manis tidak dapat dilihat, tetapi gula atau madu dapat dilihat. Inilah perumpamaan atau ibarat.
Kita ini ibarat bayangan saja.

Dengan bayangan dapat dikenali yang empunya bayang.

Dengan melihat daun bergoyang, dapat diketahui adanya angin

Dengan gula dapatlah kita merasai manis.

Dengan lada dapatlah kita merasai pedas

Yang paling penting bertanyalah kepada orang yang ahli dalam bidang kerohanian dan kesufian ini.

Ingat…! Janganlah bertanya kepada yang bukan ahlinya, karena tiap-tiap ilmu itu ada ahlinya. Ahli ilmu itulah yang faham dan mengerti tentang ilmu yang diketahui dan diamalnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: