Sirrur asral “Sufi”

“Hasbunallah wa nimal wakil”

 

Ada satu golongan yang dikenal sebagai sufi.

Empat tafsiran diberikan kepada istilah sufi.

Ada yang melihatnya pada keadaan dzahir mereka memakai baju bulu yang kasar.

Bulu dalam bahasa Arab ialah suf.

Dari perkataan ini mereka dipanggil sufi.

Yang lain melihat kepada kehidupan mereka yang bebas dari kekacauan dunia ini serta kedamaian dan ketenteraman mereka, keadaan yang sesuai dengan bahasa Arab safa.

Dari kata safa itu timbul istilah sufi.
Yang lain pula memandang lebih mendalam, kepada hati mereka yang suci murni dan bebas dari apa saja kecuali Zat Allah.

Dalam bahasa Arab safi berarti kesucian hati dan dari perkataan itu timbulah istilah sufi.

Yang lain memanggil mereka sufi karena mereka dekat dengan Allah dan akan berdiri di barisan pertama di hadapan Allah pada hari kiamat. Safi dalam bahasa Arab bermakna barisan.

.

Terdapat 4 macam alam :

Pertama ialah alam atau dunia jirim – tanah, air, api dan angin merupakan jirim dalam alam ini.

Kedua ialah alam makhluk rohani – malaikat, jin, mimpi dan kematian , ganjaran Allah – delapan syurga dan keadilan Allah – tujuh neraka.

Ketiga ialah alam huruf, nama-nama indah bagi sifat-sifat Allah, dan Loh Tersembunyi (Loh Mahfuz) yang menjadi sumber kepada perintah-perintah Allah .

Keempat ialah alam Dzat Allah Yang Maha Suci, alam yang tidak dapat digambarkan atau di-uraikan karena pada alam ini atau tahap ini tidak ada perkataan, nama-nama, sifat-sifat atau persamaan. tiada siapa kecuali Allah mengetahuinya.

.

Terdapat pula 4 jenin ilmu :.

Pertama ilmu tentang peraturan-peraturan Allah, yang berhubung dengan aspek lahir kehidupan dunia ini.

Kedua ialah ilmu kerohanian, pengetahuan batin tentang sebab dan akibat.

Ketiga ialah ilmu tentang jiwa, roh, mengenal diri dan melaluinya pengetahuan tentang ketuhanan diperoleh.

Keempat ialah  ilmu tentang kebenaran atau hakekat.

.
Roh juga ada empat jenis : roh kebendaan, roh yang arif, roh yang memerintah (roh sultan) dan roh kudus (roh suci).

.
Yang dzahir (kenyataan bagi Pencipta) juga ada 4 jenis :

Pertama ialah kenyataan di dalam rupa, bentuk, warna, seumpama gubahan-Nya.

Kedua ialah kenyataan perbuatan dan pembalasan atas suatu perkara yang terjadi.

Ketiga ialah kenyataan dalam sifat-sifat, bakat-bakat, perangai-perangai sesuatu.

Keempat ialah kenyataan bagi zat-Nya.

.

Akal atau daya mengingat juga ada 4 jenis :

akal yang menguruskan soal-soal kehidupan duniawi,

akal yang menimbang dan memikirkan soal-soal akhirat,

akal bagi roh yang bertugas dalam bidang makrifat dan akhirnya

akal yang menyeluruh.

.

Perkara yang dibahas juga ada 4 jenis :

Empat jenis ilmu, empat jenis roh, empat jenis pendzahiran (kenyataan) dan empat jenis akal.

.

Ada orang yang berada pada tahap pertama ilmu, roh, kenyataan dan akal. Mereka adalah penghuni syurga pertama yang dipanggil syurga yang menjadi tempat kembali yang mensejahterahkan, yaitu syurga keduniaan.

Mereka yang berada pada tahap kedua ilmu, roh, kenyataan dan akal tergolong ke dalam syurga yang lebih tinggi, taman kesukaan dan kesenangan karunia Allah kepada makhluk-Nya, syurga di dalam alam malaikat..

Sebagian manusia yang mencapai tahap ketiga ilmu, roh, kenyataan dan akal (makrifat) berada di dalam syurga peringkat ketiga, syurga langit-langit, syurga nama-nama dan sifat-sifat Ilahi dalam alam keesaan.

Namun, mereka yang mencari dan terikat dengan ganjaran Allah, walaupun syurga, tidak dapat melihat hakekat sebenar dalam diri mereka dan dalam benda-benda di sekeliling mereka.

.

Mereka yang arif, yang mencari hakekat, mereka yang mencapai suasana sebenar sufi, suasana keinginan menyeluruh – tidak inginkan sesuatu apa pun kecuali Allah, berhajat kepada Allah saja =  Hasbunallah wa nimal wakil – meninggalkan segala-galanya dan tidak mencari apa-apa kecuali yang hak. Mereka temui apa yang mereka cari dan masuk ke dalam alam yang hak, dan kedekatan dengan Allah, dan hidup semata-mata karena Zat Allah, tidak karena yang lain.

Ini sesuai dengan perintah Allah, “Carilah keselamatan dengan Allah” dan ikut nasihat Nabi s.a.w, “ Kedua-dua dunia dan akhirat terlarang bagi orang yang mencintai Allah” . Nabi s.a.w  tidak memaksudkan kedua-dua dunia dan akhirat dihukumkan haram. Apa yang baginda maksudkan ialah orang yang berkehendak menemui Allah menyekat keinginan hawa nafsunya, egonya, kasih sayang dan cita-citanya kepada dunia dan akhirat.

.

Pencari yang hak memberi alasan:

Dunia ini adalah ciptaan dan kita juga ciptaan. Semua yang dicipta berhajat kepada Pencipta.

Bagaimana mungkin yang berhajat meminta kepada yang berhajat juga.

Apa lagi jalan bagi yang diciptakan kecuali mencari Pencipta.
Allah berfirman melalui Rasul-Nya,

“Kecintaan-Ku, Wujud-Ku, adalah kecintaan mereka kepada-Ku”.
Nabi saw bersabda,

“Keadaanku yang sangat berhajat, kemiskinanku, adalah kemegahanku” .

.

Keadaan yang sangat berhajat dan kecintaan kepada Allah menjadi azas kepada pencarian sufi. Keadaan kemiskinan yang menjadi kebanggaan Nabi saw, bukanlah kekurangan sesuatu berbentuk keduniaan atau kebendaan. Ia adalah pelepasan segala-galanya kecuali keinginan kepada Dzat Allah. Ia adalah segala sesuatu- bukan saja yang di dalam dunia ini, bahkan yang dijanjikan di akhirat juga – dan lantaran itu suasana berhajat sepenuhnya untuk dipersembahkan kepada Allah.

Inilah keadaan yang membawa seseorang kepada kekosongan atau ketiadaan diri, lenyap di dalam Dzat Allah. Ia adalah mengosongkan diri seseorang dari pada apa saja kecuali cinta Allah. Kemudian hati menjadi bernilai atau layak untuk menerima janji Allah,

.

“Aku tidak dapat ditanggung oleh langit dan bumi tetapi dapat ditanggung oleh hati hamba-hamba-Ku yang beriman”.
Hamba yang beriman adalah yang melepaskan apa saja kecuali Yang Esa dari hatinya. Bila hati sudah disucikan, Allah melapangkannya dan memuatkan Diri-Nya ke dalamnya.

.

“Jika segala yang maujud di dalam dan di sekeliling arasy, keluasan semua ciptaan Allah, diletakkan di penjuru hati manusia sempurna dia tidak akan merasakan beratnya”.

Begitulah keadaan kekasih Allah. Kasihilah mereka dan senantiasalah bersama mereka karena yang mencintai akan bersama-sama yang dicintai pada hari akhirat nanti.

Tanda kecintaan itu ialah mencari kehadiran bersama-sama mereka, berkehendak mendengar perkataan mereka, dan dengan pandangan serta perkataan mereka, dapat merasakan kerinduan terhadap Allah Yang Maha Tinggi.
Allah berfirman melalui Nabi-Nya, Aku merasai kerinduan para hamba-Ku yang beriman, yang baik-baik, hamba yang sejati, terhadap Diri-Ku dan Aku juga merindukan mereka“.
Kekasih Allah kelihatan berbeda daripada orang lain, kelakuan dan tindakan mereka juga berbeda. Pada peringkat permulaan, ketika masih baru, tindakan mereka kelihatan seimbang antara baik dengan buruk.

.

Bila mereka maju lagi dan sampai kepada peringkat pertengahan, perbuatan mereka penuh dengan manfaat. Dalam semua hal kebaikan yang keluar melalui mereka bukan saja dalam ketaatan mereka mematuhi perintah Allah dan peraturan agama, tetapi juga dalam perbuatan yang mengandung puncak kebahagiaan dan bersinar dengan cahaya kepada maksud bagi yang dzahir.
Mereka seolah-olah berpakaian dengan pakaian daripada cahaya yang berwarna warni yang memancar daripada mereka menurut maqam mereka.

.
Apabila mereka dapat mengalahkan ego mereka dan kejahatan nafsu yang rendah dengan berkat kalimah tauhid “La ilaha illallah” dan sampai kepada kewujudan yang boleh membedakan antara yang hak dengan yang batil, yang benar dengan yang salah, cahaya biru langit memancar keluar daripada mereka.
Bila dalam peringkat tersebut, dengan pertolongan dan ilham dari Allah, mereka berpindah sepenuhnya ke dalam kebaikan dan meninggalkan kejahatan keseluruhannya, cahaya merah membungkus atau membaluti mereka.

.

Dengan berkata nama Allah – HU – nama itu tiada yang lain kecuali yang hak dapat menceritakannya, mereka sampai kepada peringkat yang disucikan daripada segala sifat-sifat tercela dan perbuatan jahat dan menemui suasana tenang dan aman, kemudian cahaya hijau keluar daripada mereka.

.

Bila semua ego dan keinginan, bila semua kehendak diri sendiri dihapuskan melalui berkat HAQ, yang sebenarnya, dan bila mereka menyerahkan kehendak mereka kepada kehendak Allah dan redha dengan apa juga yang datang daripada-Nya, warna mereka berubah menjadi cahaya putih.
Inilah gambaran orang-orang sufi dari peringkat permulaan mereka di dalam perjalanan sampailah kepada peringkat pertengahan. Tetapi seseorang yang sampai kepada perbatasan peringkat ini tidak mempunyai bentuk atau warna. Dia menjadi seolah-olah sinar cahaya matahari. Cahaya matahari tidak berwarna. Sufi yang sampai kepada maqam yang paling tinggi tidak mempunyai kewujudan untuk membalikkan cahaya atau warna. Jika ada, warnanya ialah hitam, yang menyerap semua warna. Inilah tanda keadaan fana.

.
Kebanyakan orang yang melihat kepada keadaan yang tiada warna ini, kelihatan gelap, menjadi tabir menutupi cahaya makrifat yang dia miliki, seperti malam menutupi sinar matahari. Allah berfirman: “Dan Kami jadikan malam itu (sebagai) pakaian. Dan Kami jadikan siang itu tempat penghidupan” (Surah Nabaa, ayat 10 & 11).
Bagi mereka yang sampai kepada hakekat atau intipati akal dan ilmu, ada tanda dalam ayat di atas.

.
Mereka yang sampai kepada kebenaran (hakekat) ketika di dalam dunia ini merasakan seolah-olah di penjarakan di dalam ruang tahanan bawah tanah yang gelap. Mereka menghabiskan hayat mereka di dalam kesusahan dan kesengsaraan. Mereka menanggung kesusahan yang besar, tekanan-tekanan keadaan, di dalam dunia yang gelap sepenuhnya.

.

Nabi s.a.w bersabda, “Dunia ini adalah penjara bagi orang beriman” .

Seperti yang baginda Rasulullah saw kabarkan, cobaan yang paling besar menimpa para nabi, kemudian mereka yang dekat dengan Allah, oleh karena itu bagi sufi memakai pakaian hitam dan mengikat sorban hitam di kepalanya adalah sesuai karena itu adalah pakaian orang yang bersedia menempuh kesusahan dan kesakitan di dalam perjalanan ini.

.
Kenyataannya, hitam adalah pakaian paling sesuai bagi mereka yang berkabung karena kehilangan kemanusiaan dan kewujudan diri mereka. banyak manusia yang kehilangan anugerah yang berharga .., bagi mereka yang sadar, bagi yang dapat melihat kebenaran, tidak akan membunuh kehidupan abadi dengan tangan mereka sendiri. Membuang kasih Ilahi dan kerinduan di dalam hati mereka, memisahkan diri mereka dengan roh suci, mereka hilang kesempatan untuk kembali kepada asal mereka.

.

Walaupun mereka tidak mengetahuinya, merekalah yang menderita bala yang paling besar. Jika mereka sadar bahwa mereka sudah kehilangan segala nikmat akhirat, kehidupan abadi, mereka tentunya memakai pakaian hitam, pakaian berkabung.. Orang yang kehilangan kebaikan hidup yang abadi seharusnya berkabung secara abadi juga.

.
Nabi s.a.w bersabda, “Mereka yang ikhlas sentiasa berada di tepi bahaya besar” . Betapa tepat gambaran ini mengenai orang yang terpaksa berjalan berjinjit-jinjit dengan penuh kewaspadaan! Tetapi inilah suasana sufi yang meninggalkan kewujudan dirinya dan berada di dalam alam fana. Kefakirannya terhadap dunia ini yang ditinggalkannya dan hajatnya yang penuh kepada Allah sangat besar, dan dia melepasi kemanusiaan sebagai keindahan yang bersangatan.
Mereka yang memperolehi penyaksian kepada yang hak, setelah menyaksikan keindahan kebenaran itu, tidak ingin melihat yang lain lagi.

.

Mereka tidak ingin melihat kecintaan dan kerinduan kepada apa saja. Bagi mereka, Allah jualah yang menjadi yang dikasihi, hanya Dia yang wujud. Begitulah keadaan mereka di dalam kedua-dua alam. Itulah satu-satunya matlumat mereka. Akhirnya mereka menjadi insan, dan Allah ciptakan insan supaya mengenali-Nya, supaya mencapai Dzat-Nya.

.

Menjadi kewajiban bagi setiap orang untuk mencari dan mengenali atau mengetahui tujuan dia diciptakan dan menghayati maksud tujuan tersebut, kewajiban yang mereka tanggung di dalam dunia ini dan di akhirat, supaya mereka tidak habiskan usia mereka di dalam kerugian, agar mereka tidak menyesal di akhirat serta menanggung kerinduan di dalam penyesalan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: